Lego, Ergo Sum

Priska, 21 y.o. from Indonesia. Member of BBI #1301075

I read, therefore I Exist.



2014 Reading Challenge

2014 Reading Challenge
Priska has read 1 book toward her goal of 40 books.
hide
1 of 40 (2%)
view books


Read the Printed Word!

free counters

Sidebar by Theme Static

Petualangan Absurd Kakek 100 Tahun

image

  • Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared
  • Pengarang: Jonas Jonasson
  • Penerjemah: Marcalais Fransisca
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Cetakan: I, Mei 2014
  • Ukuran: viii + 508 hlm ; 20,5 cm.
  • Rating: 4 dari 5 bintang

Tanggal 2 Mei 2005, sejam sebelum perayaan ulang tahunnya yang ke-seratus, Allan Karlsson memanjat keluar jendela kamarnya di Rumah Lansia di Malmköping, Swedia, lalu menghilang.

Ke mana perginya?

Hal pertama yang mencuri perhatian dari buku ini tentu judulnya yang menggelitik. Kedua, desain kovernya yang minimalis, cuma dihiasi tiga warna: hijau, hitam dan putih, tapi sumpah eye-catching (hijaunya segar!). Ketiga, tentu isi ceritanya sendiri.

Ini adalah kisah perjalanan. Pembaca diajak mengikuti sekaligus dua petualangan Allan yang luar biasa. Pertama adalah yang dimulai di ulang tahun ke-seabadnya. Walaupun sudah renta fisik Allan masih tergolong kuat dan belum pikun, sehingga sementara tim pencari masih berpikir dia cuma kesasar di dekat-dekat situ, Allan sudah keburu mencuri sebuah koper yang ternyata milik geng penjahat(!) dan menemukan teman-teman baru yang eksentrik yang membantunya melarikan diri dari kejaran kiriminal… juga tim polisi pencari Allan. Memang apa isi koper itu?

Perjalan kedua merupakan kilas-balik kehidupan Allan, yang membuat kisah kejar-kejaran di masa tuanya seolah (agak) kalah seru. Keahlian merakit bahan peledak semenjak remaja ternyata menjadi modal Allan berkelana ke berbagai penjuru dunia yang tengah dilanda perang sepanjang abad ke-20. Dia bertemu, bahkan berteman, dengan petinggi berbagai negara. Mereka ingin memanfaatkan Allan untuk kepentingan kubu mereka sendiri, tapi sifat Allan yang super-apatis terhadap politik membuatnya dengan enteng mau berganti-ganti kubu. Tentu sikap ini membawa kesulitan baginya… atau malah jadi alternatif jalan keluar.

Buku ini cukup padat dengan informasi sejarah. Sempat membuat bosan, tapi lumayanlah menambah pengetahuan baru. Kebetulan-kebetulan yang membawa Allan kecemplung berbagai peristiwa penting dunia terasa nggak realistis. Tapi Allan punya motto hidup sendiri: Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi pasti terjadi, maka seperti itu pulalah sebaiknya pembaca menyikapi buku ini. Jonas Jonasson menulisnya bukan sebagai buku ajar melainkan sebagai guyonan absurd sekaligus cerdas terhadap kefanatikan manusia terhadap paham politis tertentu. Aku pribadi suka sekali dengan sifat Allan yang simpel; pokoknya selama dia dapat makan teratur dan boleh minum vodka, nggak masalah dia bekerja buat siapa. Menurutnya konflik-konflik besar seharusnya bisa diselesaikan secara sederhana.

“Dia belajar bahwa konflik terbesar dan paling sulit diselesaikan di muka bumi ini terjadi karena dialog berikut ini: ‘Kau bodoh, bukan, kau yang bodoh, bukan, kau yang bodoh.’ Kata Allan, solusinya sering kali dengan menghabiskan sebotol vodka bersama lalu menatap ke depan.” (hlm. 250-251)

Mungkin benar juga.

Buku ini juga layak mendapat tempat khusus di hati pembaca Indonesia karena… negara kita ikut dikunjungi Allan! Sebagai tempat liburan. Selama 15 tahun lebih. Memalukan sih sebenarnya, yang disoroti justru korupsinya yang merajalela. Apapun bisa dibeli dengan uang, dari ijazah sampai jabatan politik. Rasanya kepingin mengundang Jonas Jonasson berkunjung langsung ke sini, di satu sisi penasaran apakah sampai tahun 2014 ini beliau masih berpandangan korupsi di Indonesia segila itu (menurutku sih udah sedikit membaik dengan kinerja KPK dsb), di sisi lain… serius 15 tahun Allan di Indonesia cuma tahu Bali? Rugi, kek!

Akhirnya, aku ingin merekomendasikan buku ini ke Pak SBY, berhubung nama beliau ikut disebut di halaman paling akhir buku ini. Dan, di halaman itulah aku tertawa paling keras. :)

image

Some things are hard to write about. After something happens to you, you go to write it down, and either you over dramatize it, or underplay it, exaggerate the wrong parts or ignore the important ones. At any rate, you never write it quite the way you want to.

Sylvia Plath (via darth-roast-coffee)

(via literatureismyutopia)

Books aren’t all supposed to be our best friends. Sometimes they’re supposed to be that difficult friend who encourages us to do things that we don’t feel are rational or grown-up.

Kevin Smokler (via booksandhotchocolate)

(via whispering-literature)

Refleksi Bacaan 2013 & Resolusi 2014

Tahun lalu aku nggak bikin postingan ini, padahal dua tahun sebelumnya rutin bikin. Kenapa ya… kenyataannya 2013 memang tahun yang cukup kacau buatku sih ;w; blog ini pun terkena imbasnya, sempat benar-benar ditinggal selama tujuh bulan berturut-turut, habis itu kalaupun diupdate kebanyakan hanya berupa reblog dari tumblr lain. Total review yang kubuat selama 2013 cuma…. lima biji *jatuh tersungkur*. Awal tahun aku mendaftar ikut event Harry Potter di blog Mbak Melisa Mariani dan Fun Year with Children Literature di blog Mbak Bzee tapi dua-duanya dengan sukses gagal total kuikuti *berguling ke kolong meja saking malunya*.

Untuk kegiatan membaca sebenarnya tetap jalan. Dari 2013 Reading Challenge Goodreads aku menargetkan baca 35 buku dan alhamdulillah tembus sampai 39 buku (sebenarnya lebih malah tapi bukunya nggak kedaftar di Goodreads jadi nggak kehitung di RC itu :)). Yaah sebenarnya agak curang juga sih, soalnya aku memasukkan 8 judul manga ke situ (aku jarang baca komik dan kalau baca biasanya nggak dimasukin ke GR, tapi seri Tokyo Babylon-nya CLAMP itu pengecualian berhubung ternyata aku sangat suka sekali :’) ), untuk buku yang full-text jadi sebenarnya aku cuma membaca 31 buku, kurang lebih.

Di tahun 2013 ada bulan-bulan dimana aku sama sekali nggak pegang bacaan karena sibuk tepatnya sibuk galau #HEH, yang sebenarnya tumben banget secara biasanya aku bisa kayak orang sakau kalau nggak baca novel beberapa hari aja ( . .). Selain sibuk, minat bacaku juga lagi fluktuatif sih, nggak jelas banget maunya apa >:(. Tahun ini rasanya udah mulai jenuh baca klasik atau tema yang berat-berat, tapi ternyata buku-buku yang kesisa di timbunanku banyakan tipe begitu, heuuh. Mau beli bacaan baru pun merasa bersalah karena beberapa tahun terakhir lumayan sering kalap gila-gilaan kalau beli buku di pameran/diskonan dan akhirnya masih menimbun belum tersentuh. Saking gampangnya jenuh akhirnya ada banyak buku yang baru separuh dibaca udah ditinggal pindah baca buku lain. Kemudian waktu minat baca mulai kembali sedikit-sedikit, entah kenapa tiap baca buku nggak sabaran sampai ke ending akhirnya sering skimming, yang akhirnya aku kurang menikmati proses membaca itu sendiri.

Yah begitulah, dibilang 2013 kemarin tahun yang kacau .-.

Berita bagusnya, ternyata aku lumayan banyak baca buku misteri/detektif tahun lalu, genre yang sebelumnya jarang kusentuh tapi ternyata cukup kunikmati. :D

Awal tahun 2014 ini sih masih semangat pingin memperbaiki kekacauan tahun lalu, hehe. Barusan berhitung kasar dan ada sekitar 50 judul buku di rakku yang belum pernah tamat dibaca, semoga bisa dikurangi sepanjang tahun ini :’)). Dan awal tahun, reading challenge pun bertebaran. Meski rasa-rasanya aku masih suka nggak konsisten, tetep aja nekat tahun ini mau coba ikutan RC lagi, hehe.

Reading Challenge yang rencananya kuikuti 2014 ini:

  • Goodreads Reading Challenge. Ini sih udah semacam wajib, dan nggak terlalu terasa kayak challenge, buatku malah ngebantu banget buat nge-list buku apa aja yang udah dibaca sepanjang tahun. Tahun ini aku menargetkan baca 40 buku (naik 5 buku dari target 2013).
  • Posting Bareng Bulanan BBI. Eh ini sebenarnya challenge bukan sih, soalnya terasa menantang juga :)). Semoga bisa lebih rajin ikutan meski kayaknya nggak akan ikut semua.
  • New Author’s Reading Challenge 2014, di-host oleh Mbak Ren. Untuk RC ini nggak wajib membuat master post katanya, jadi kusebut di sini aja lah ya, eheh. Aku pilih ikut level yang Easy saja (1-15 buku), buatku itu sih udah lumayan banyak. Tahun ini mungkin aku masih sibuk dan akan hilang-hilangan lagi tapi semoga kegiatan baca jalan terus :).
  • Lucky No. 14 Reading Challenge, di-host oleh Mbak Astrid. Master post-nya menyusul setelah ini.
  • Udah, itu dulu eh =)).

Selain itu aku kepikiran pingin baca ulang semua novel Neil Gaiman yang kupunya (aku punya hampir semua judul yang udah diterjemahkan, kecuali The Graveyard Book) tapi sambil jalan aja dilakoninya :)). Nggak kepingin menargetkan lain-lainnya, tahun ini rencananya mau santai pokoknya, masih harus fokus sama dunia nyata juga sih :p

Selamat tahun baru 2014, dan selamat membaca! \o/

[Posting Bareng BBI Desember 2013 - Detektif] Misteri Teka-Teki Aneh (The Mystery of Dead Man’s Riddle)

image

  • Judul: Misteri Teka-Teki Aneh (The Mistery of Dead Man’s Riddle)
  • Serial: Alfred Hitchcock & Trio Detektif (Alfred Hitchcock and the Three Investigators) #22
  • Pengarang: William Arden
  • Penerjemah: Agus Setiadi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: III, September 1989
  • Ukuran: 240 hlm ; 18 cm.
  • Rating: 3,5 dari 5 bintang

Trio detektif adalah tiga remaja berjiwa petualang yang sering membantu pihak kepolisian Rocky Beach, sebuah kota kecil di California, dekat Hollywood, dalam memecahkan kasus-kasus misterius. Trio ini dipimpin oleh Jupiter Jones, yang meskipun berbadan agak gemuk (tapi dia paling tidak suka kalau orang lain mengungkit-ungkit potongan fisiknya!), otaknya sangat cerdas dan mampu berpikir logis dan deduktif untuk mengusut tiap petunjuk misterius. Selain Jupe ada juga Pete Crenshaw yang jangkung, berbadan kekar dan sigap, dan Bob Andrews yang rajin dan teliti. Dalam firma penyelidik mereka, Jupiter bertugas sebagai Penyelidik Satu, Pete sebagai Penyelidik Dua, sementara Bob menangani bagian Catatan dan Riset. Ketiga remaja ini berkawan dengan Alfred Hitchcock, sang sutradara film kenamaan, yang sering memberi mereka kasus-kasus menarik untuk ditangani.

Misteri kali ini dimulai ketika Marcus “Dingo” Towne, orang tua eksentrik yang tinggal di Rocky Beach, meninggal dunia dan meninggalkan surat wasiat yang menyatakan siapapun yang dapat memecahkan teka-tekinya boleh menguasai harta warisannya. Teka-teki yang dimaksud adalah enam bait syair yang bunyinya sebagai berikut:

Where the wild dog lives, the bottle and stopper, shows the way to the billabong.

Above the apples and pears all alone, the Lady from Bristol rides from a friend.

At the tenth ball of twine, you and me, see our handsome mug ahead.

One man’s victim is another’s darlin’, follow the nose to the place.

Where men buy their trouble and strife, get out if you can.

In the posh queen’s old Ned, be bright, and natural and the prize is yours.

(Di tempat tinggal anjing liar, botol dan sumbat menunjukkan jalan ke billabong.

Di atas apel dan pir sendirian saja, Nyonya dari Bristol berkendaraan dari seorang teman.

Di bola benang kesepuluh, kau dan aku, melihat mangkuk bagus kita di depan.

Korban bagi yang satu, adalah kekasih bagi yang lain, ikuti hidung ke tempat.

Di mana orang membeli kesulitan dan pertengkaran, keluarlah kalau kau bisa.

Di Ned tua Ratu yang hebat, cerdaslah, serta wajar, sehingga hadiah menjadi milikmu.)

Membingungkan? Pastinya. Tetapi iming-iming harta warisan yang konon berupa batu-batu mulia tetap saja menarik perhatian banyak pihak untuk memburunya. Ahli waris Dingo yang masih hidup, yaitu menantunya Nelly Towne dan putra Nelly, Billy Towne, beserta Roger Callow si pengacara keluarga Towne akhirnya sepakat menyewa jasa Trio Detektif agar dapat memecahkan teka-teki itu. Berkat kecekatan pikiran Jupiter, dibantu Pete dan Bob, segera saja ketiga remaja itu berhasil menemukan kunci yang dapat membuka teka-teki aneh Dingo. Tetapi resiko menceburkan diri ke urusan ini membuat mereka harus mewaspadai banyak musuh: kakak-beradik Percival, keponakan Dingo yang jahat dan ikut bertekad merebut harta warisan; Skinny Norris, remaja menyebalkan yang sudah lama menjadi musuh bebuyutan Trio Detektif; belum lagi musuh misterius yang diam-diam membuntuti dan musuh dalam selimut yang tak mereka duga—sedikit saja salah melangkah dapat menyeret mereka pada marabahaya!

Berhasilkah Trio Detektif memecahkan teka-teki Dingo sampai akhir? Apakah orang tua itu betul-betul meninggalkan harta, atau jangan-jangans teka-teki itu hanya salah satu perwujudan ide gilanya?

***

Ini pertama kalinya aku mengikuti kisah petualangan Trio Detektif. Bukunya juga hasil pinjam dari teman yang promosi buku ini lebih seru dari serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton :)). Serial Alfred Hitchcock dan Trio Detektif sepertinya memang pernah booming di IIndonesia tahun ’80-an. Sayangnya aku baru lahir beberapa tahun setelahnya, dan mungkin serial ini nggak dicetak ulang lagi tahun-tahun setelah aku lahir—beda dengan Lima Sekawan-nya Enid Blyton yang sampai aku SMA pun masih bisa ditemukan terpajang manis di rak-rak toko buku (sayangnya sekarang udah menghilang juga :( )—jadi aku nggak sempat merasakan serunya memiliki Jupiter, Pete dan Bob sebagai “teman” masa kecil.

However kisah mereka tetap menarik diikuti kok! Benar juga buku ini nggak kalah serunya dari Lima Sekawan. Menguraikan teka-teki Dingo sendiri udah susah, ditambah ”musuh” yang harus dihadapi Trio Detektif banyak banget dan nggak semuanya ketahuan identitasnya. Sejago-jagonya Jupiter, Pete dan Bob, tetap saja beberapa kali mereka terkecoh, menemui jalan buntu, dan hampir didahului oleh para musuh. Meski udah tahu kalau tiga remaja ini banyak akal, sehingga hampir pasti berhasil lolos dari kesulitan, tetap saja lumayan deg-degan bacanya :D. Bagian paling menegangkan buatku waktu trio ini terjebak di kapal kecil yang hanyut ke arah air terjun, huaa gimana nasib mereka kalau mereka nggak lekas menyelamatkan diri itu >.<

Garis besar plotnya mungkin memang nggak jauh beda dengan serial detektif anak-anak lainnya, misalnya Lima Sekawan (iya maaf ya, bisanya bandingin dengan serial Enid Blyton yang ini, soalnya aku masih ngerasainnya jaman-jaman melahap tiap buku Lima Sekawan yang dipunyai perpus sekolah dulu sih, hehe)—dimana anak-anak muda cerdas dan pemberani ini berhasil membongkar misteri yang dianggap memusingkan bagi orang dewasa. Endingnya pun kurang lebih ketebak. Tapi memang ini buku ringan sih, jangan malah dicari ribetnya. Lagi-lagi aku menyesal baru “kenalan” dengan Trio Detektif pas udah segede gini; bayangkan sebagai anak-anak, gimana nggak kagum dan terkesima mengikuti aksi Jupe, Peter dan Bob?

Oh, apalagi kalau melihat kantor dan peralatan yang mereka punya, nggak mungkin nggak ngiri! Jadi ceritanya Jupiter tinggal bersama paman dan bibinya yang berdagang barang bekas. Jupiter sering merakit peralatan penyelidikan dari barang-barang bekas yang nggak terpakai, dan kantor Trio Detektif sendiri berupa karavan usang yang ‘disulap’ menjadi kantor detektif, terletak di pekarangan rumah Jupiter, The Jones Salvage Yard. Tempat itu luas dan dipenuhi bergunung-gunung barang bekas, sampai-sampai mampu ‘menyembunyikan’ karavan Trio Detektif dari pandangan orang luar. Lebih kerennya lagi, jalan masuk menuju kantor ini adalah melalui terali rahasia yang berada di bengkel kerja Jupiter, yang terhubung ke terowongan pipa besar yang lewat di bawah timbunan barang-barang bekas, lalu berakhir di pintu tingkap di lantai karavan. Selain itu Trio Detektif juga punya banyak jalan rahasia untuk masuk ke The Jones Salvage Yard, salah satunya untuk menghindari bertemu dengan Bibi Mathilda, bibinya Jupiter yang gemar menyuruh mereka bekerja, haha. Seru banget kan?

Aku juga lumayan terkesan dengan sistem penyelidikan yang digunakan Trio Detektif. Berhubung serial ini ditulis dalam rentang tahun ‘60 sampai ‘80-an, tentu Jupiter dan kawan-kawan masih menggunakan cara-cara “jadul.” Tiap butuh mengecek sesuatu perginya ke perpustakaan, lalu mereka punya sistem ”koneksi hantu ke hantu” yang intinya nggak jauh beda dengan sistem “jarkom” dimana masing-masing anak menelepon lima temannya, lalu masing-masing teman yang ditelepon itu menelepon lagi lima teman yang lain, begitu seterusnya, untuk menyebarluaskan pesan yang dibutuhkan. Teleponannya pun masih pakai telepon rumah, jelas. Jadi penasaran, apa jadinya ya kalau serial ini ditulis ulang dalam setting modern, dimana udah ada Google dan smartphone yang langsung terkoneksi ke internet buat mencari ini-itu; apakah petualangan Trio Detektif akan sama serunya? :D

Omong-omong, walaupun serial ini menyandang nama dan karakter dari tokoh nyata Alfred Hitchcock, kenyataannya Mr Hitchcock bukanlah penulis serial ini, dan Jupiter Jones dan kawan-kawannya bukanlah tokoh nyata, pastinya. Trio Detektif awalnya diciptakan oleh Robert Arthur, yang beranggapan mencantumkan nama sang sutradara terkenal akan menarik minat pembaca (ada-ada aja sih idenya =)). Mr Arthur menulis beberapa buku pertama serial ini, lalu dilanjutkan oleh beberapa penulis lainnya—untuk buku Teka-teki Misteri Aneh ini ditulis oleh William Arden. Random House Ltd, yang pertama kali menerbitkan serial ini di Amerika, membayar royalti ke Alfred Hitchcock yang asli supaya bisa memakai nama beliau. Setelah Alfred Hitchcock yang asli meninggal, perannya dalam serial ini digantikan tokoh fiktif bernama Hector Sebastian, dan nama serial ini ikut diubah menjadi Trio Detektif saja (sumber: Wikipedia).

bibliophilefiles:

books make you strong

bibliophilefiles:

books make you strong

(via literatureismyutopia)

Secret Santa 2013: Are You My Santa?

Halo, Santa, maapin aku baru sempat ngepost riddle darimu, hehe :’)

Jadi beginilah ceritaku menerima kadomu:

Alkisah (alkisah apaan), akhir November lalu (tanggal 28, kalau tidak salah) aku pulang kantor magang dan menemukan sebuah paket terbungkus kertas kado warna ungu bermotif bulan-bintang, yang ternyata dari Santa! Kaget tentunya, nggak menyangka kado dari Santaku sampai secepat itu, berhubung waktu itu bahkan belum masuk bulan Desember, dan aku bahkan belum ngecek wishlist buat X-ku sendiri kayaknya #HEH *lalu digetok X-ku*, rupanya Santaku udah gerak cepat duluan.

Dan isi bungkusan itu adalah novel Antologi Rasa karya Ika Natassa. Metropop wasn’t really my genre tapi aku masukin wishlist gara-gara aku suka ngikutin twit-twitnya @ikanatassa dan jadi tertarik baca novelnya :D

Kado sudah di tangan, laporan di grup BBI bahwa kadoku udah sampai juga udah, tinggal dibaca deh bukunya sambil menebak-nebak riddle si Santa sampai tenggat waktu akhir Januari nanti……… atau kupikir gitu. Ternyata oh ternyataaa, cuma berselang dua hari kemudian (tanggal 30 November), pulang nemenin ayahku kondangan, katanya ada paket buatku. Awalnya nggak kugubris, ngiranya paling undangan kawinan atau paket apalah buat ayahku. EH nggak taunya bungkus kado warna ungu motif bulan-bintangnya familier sekali, nggak mungkin salah… Santaku mengirimkan kado kedua!

Kaget, seneng banget, terharu campuraduk jadi satu. Alhamdulillah banget dua tahun berturut-turut ikut Secret Santa, Santaku selalu ngasih dua buku. Makasih banyak Santa-Santaku yang baik (kak Edisty Friskanesya buat tahun lalu, maaf ya gagal menebak riddle-mu >.<). Lebih girang lagi kali ini bukunya adalah The Ocean At The End Of The Lane karya Neil Gaiman, one of my most favorite author, yay! xD

Sayangnya, dikasih kado dobel, dikasih riddle-nya pun dobel, dan dasar emang pada dasarnya aku ini nggak punya insting detektif (halah), bukannya tambah tercerahkan kebingunganku pun berdobel-dobel (halaahh #plak). Santaku memberi nama samaran Rachel Autumn Yue, alamat resi JNE-nya dari Tomang, Jakarta Barat.

^Riddle dari kado pertama

^Riddle tambahan (?) yang ikut nempel di kado pertama 

^Riddle dari kado kedua

^Di samping riddle, Santaku juga menyiapkan kartu kecil di setiap kado.

S-sampai sekarang jujur masih puyeng baca riddlesnya @____@”)a doakan aku segera bisa membongkar kedokmu, Santa! Buat yang kira-kira punya tebakan siapa Santaku, boleh dong sini berbagi kisi-kisi :’3 *duduk manis puppy-eyed*

Btw, buat X-ku yang dari nada postingannya kelihatannya masih bingung menebak siapa aku, jangan menyerah! Riddle-ku sebenarnya gampang kok. Apalagi aku ngepost ini mestinya makin gampang terlihatlah sebuah (atau lebih dari sebuah) clue. Semoga udah bisa menebak sebelum akhir bulan depan! (yaudah ini malah tebar-tebar kode ke X eh =)) )